Kerajaan Mataram Kuno merupakan salah satu kerajaan Hindu-Buddha terpenting dalam sejarah Nusantara yang berkembang di Jawa Tengah antara abad ke-8 hingga ke-10 Masehi. Kerajaan ini dikenal sebagai pusat peradaban yang menghasilkan warisan budaya monumental, terutama Candi Borobudur yang dibangun oleh Dinasti Syailendra. Dalam konteks perkembangan kerajaan-kerajaan Nusantara, Mataram Kuno memiliki hubungan erat dengan kerajaan lain seperti Kerajaan Sriwijaya yang menguasai perdagangan maritim, serta menjadi cikal bakal bagi kerajaan-kerajaan Jawa berikutnya seperti Kerajaan Singasari dan Kerajaan Majapahit.
Dinasti Syailendra, yang memerintah Mataram Kuno pada periode kejayaannya (sekitar 775-850 M), adalah penguasa beragama Buddha Mahayana yang meninggalkan jejak arsitektur megah. Candi Borobudur, dibangun sekitar tahun 800 M, merupakan mahakarya mereka yang menggambarkan kosmologi Buddha melalui 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Pencapaian ini sebanding dengan monumen besar peradaban dunia lain, seperti piramida Kerajaan Mesir Kuno, meski dengan fungsi dan konteks keagamaan yang berbeda. Sementara Mesir Kuno membangun piramida sebagai makam firaun, Borobudur dibangun sebagai tempat ziarah dan meditasi.
Sebelum munculnya Mataram Kuno, Nusantara telah memiliki kerajaan-kerajaan awal seperti Kerajaan Kutai di Kalimantan (abad ke-4) yang meninggalkan prasasti Yupa, serta Kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat (abad ke-5) dengan prasasti Ciaruteun. Kerajaan-kerajaan ini menunjukkan diversifikasi perkembangan politik dan budaya di berbagai wilayah. Di Sumatera, selain Sriwijaya, terdapat pula Kerajaan Perlak (abad ke-9) sebagai kerajaan Islam awal, dan Kerajaan Kandis yang diyakini sebagai kerajaan tertua di Riau. Keberagaman ini membentuk mozaik sejarah yang kaya sebelum konsolidasi kekuasaan di Jawa.
Hubungan antara Mataram Kuno dan Sriwijaya sangat menarik untuk dikaji. Beberapa sejarawan meyakini adanya ikatan perkawinan politik antara kedua kerajaan, yang mungkin menjelaskan pengaruh budaya dan agama yang saling bertukar. Sriwijaya, sebagai kerajaan maritim kuat, menguasai Selat Malaka dan perdagangan rempah, sementara Mataram Kuno fokus pada pertanian dan pembangunan monumen keagamaan. Sinergi ini mirip dengan bagaimana Kerajaan Mesir Kuno mengembangkan peradaban berbasis sungai Nil, sementara kerajaan-kerajaan tetangganya di Mediterania menguasai perdagangan laut.
Setelah periode kejayaan Mataram Kuno, pusat kekuasaan berpindah ke Jawa Timur dengan munculnya Kerajaan Singasari (1222-1292 M) di bawah Ken Arok, yang kemudian diteruskan oleh Kerajaan Majapahit (1293-1527 M). Majapahit, di bawah Hayam Wuruk dan patih Gajah Mada, mencapai puncak kejayaan dengan wilayah kekuasaan yang luas, sering disebut sebagai kemaharajaan Nusantara. Warisan budaya Mataram Kuno, termasuk nilai-nilai seni dan arsitektur, turut mempengaruhi perkembangan kerajaan-kerajaan penerus ini.
Transisi menuju era Islam ditandai dengan berdirinya Kerajaan Demak (1475-1554 M) sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Demak tidak hanya melanjutkan tradisi politik Jawa, tetapi juga mengadaptasi warisan budaya sebelumnya, termasuk dalam arsitektur masjid yang menunjukkan akulturasi dengan gaya candi. Proses islamisasi ini berbeda dengan perkembangan di Sumatera, di mana Kerajaan Perlak telah lebih dulu menerima Islam sejak abad ke-9.
Candi Borobudur sendiri merupakan bukti kecanggihan teknologi dan seni Mataram Kuno. Dibangun dari sekitar 2 juta balok batu andesit, candi ini memiliki struktur punden berundak yang merepresentasikan tiga tingkatan alam dalam kosmologi Buddha: Kamadhatu (dunia hasrat), Rupadhatu (dunia berbentuk), dan Arupadhatu (dunia tanpa bentuk). Relief-reliefnya menggambarkan kehidupan Buddha, kisah Jataka, dan adegan kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa saat itu. Keberadaan Borobudur mengingatkan pada monumen-monumen besar peradaban lain, seperti piramida Giza di Kerajaan Mesir Kuno, yang juga mencerminkan kemampuan organisasi dan kepercayaan religius yang mendalam.
Peninggalan Mataram Kuno tidak hanya berupa candi, tetapi juga prasasti seperti Prasasti Canggal (732 M) yang menyebutkan pendirian lingga oleh Raja Sanjaya, dan Prasasti Kalasan (778 M) tentang pembangunan Candi Kalasan. Prasasti-prasasti ini menjadi sumber penting untuk memahami struktur politik, ekonomi, dan sosial kerajaan. Metode pencatatan sejarah melalui prasasti juga ditemukan pada kerajaan-kerajaan Nusantara lain, seperti pada Kerajaan Kutai dengan prasasti Yupa, atau Kerajaan Tarumanagara dengan prasasti batu.
Dalam konteks perbandingan global, pencapaian Mataram Kuno patut dibanggakan. Sementara Kerajaan Mesir Kuno membangun piramida sebagai simbol kekuasaan firaun dan kehidupan setelah mati, Mataram Kuno melalui Dinasti Syailendra membangun Borobudur sebagai ekspresi spiritualitas dan pencarian pencerahan. Keduanya menunjukkan bagaimana peradaban mengerahkan sumber daya untuk mewujudkan keyakinan religius dalam bentuk fisik yang megah.
Warisan Kerajaan Mataram Kuno masih relevan hingga kini. Candi Borobudur, sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga pusat perayaan Waisak tahunan. Pelestariannya menjadi tanggung jawab bersama, sebagaimana pelestarian piramida Kerajaan Mesir Kuno atau situs-situs dari Kerajaan Majapahit seperti Candi Penataran. Pemahaman sejarah ini penting untuk membangun identitas bangsa yang menghargai keberagaman dan warisan leluhur.
Dari Mataram Kuno hingga kerajaan-kerajaan penerusnya, sejarah Nusantara menunjukkan dinamika politik, budaya, dan agama yang kompleks. Setiap kerajaan—dari Kerajaan Kutai yang tertua, Kerajaan Sriwijaya yang menguasai laut, Kerajaan Majapahit yang mempersatukan wilayah, hingga Kerajaan Demak yang membawa Islam—memberikan kontribusi unik dalam membentuk Indonesia modern. Pelajaran dari masa lalu ini mengajarkan kita tentang toleransi, akulturasi, dan pentingnya melestarikan warisan budaya untuk generasi mendatang. Bagi yang tertarik menjelajahi lebih banyak tentang warisan sejarah, kunjungi lanaya88 link untuk informasi terkini.